Tasbih Sang Kelelawar
Oleh: Siti Nurul Fatimah*
Aku seperti kelelawar terbang bebas tengah malam
Menghabiskan separuh malam pengganti siang
Mencari sebingkai makna dari tidurku yang panjang
Mengintip sepercik sinar di balik sujudku yang kurang
Aku seperti kelelawar yang tengah kelaparan
Mencari sesuap dahaga dalam lelapnya lampu temaram
Mengantri sembako bergilir tak berwujud garam
Menghibur diri,
melebur bersama sayup-sayup jibril yang hampir hilang saat subuh datang
Memanjat tebing-tebing penghalang risau
Aku seperti kelelawar yang usang
Mengejar matahari didalam hutan yang gersang
Menimba air dengan tubuh kering kerontang
Diatas bukit dibawah langit ragaku terguncang
Mendengar desir-desir ombak menggelegar
Disini
Ditempat aku meraut hasrat,
menabur benih kedalam rongga mulutku yang mulai kering
dalam arus lumpur kau memandang
sambil mendendangkan lagu kemenangan
Menceritakan kisahku kedalam untaian kata
Menjadi satu cerita yang bisa diminati oleh pembaca
Menuliskan rentetan masalalu diatas kepingan waktu yang mulai retak
Membiarkan orang-orang berbisik satu persatu dibawah alam sadarku
Aku seperti kelelawar kepanasan
Ketika tasbihku tak bisa menjawab hasrat yang tak pernah terobati
ketika tahmit mulai jenuh terucap dalam detak nadi
ketika takbir tak lagi merdu untuk didengar
yang tersembunyi,dan terselip diranting kunir yang nyinyir
Duh gusti.
Jauhkan ini dari hati yang kian penuh duri
menginginkan sesuatu yang lebih dari sesuatu yang telah Kau penuhi
ku ingin berjalan dengan ketentuan-Mu yang pasti
agar aku tak meyesal nanti-nanti
Duh gusti
beri aku sepercik air pelangi
bila tak mampu mengobati benih-benih hati yang kian terkebiri
jangan biarkan aku terhunus tajamnya rongga-rongga peniti
menancap tepat di ulu hati
Selasa, 27 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar